PEMBAGIAN HARTA PUSAKA DALAM ISLAM

ILMU FARAAID ( علم الفرائض)

ILMU FARAAID ialah ilmu yang menguraikan cara membagi harta peninggalan seseorang kepada ahli waris yang berhak menerimanya.

Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah.

Tujuan ilmu faraaid adalah agar pembagian warisan dilakukan secara adil, tidak ada ahli waris yang dirugikan sehingga tidak ada perselisihan atau perpecahan antar ahli waris karena pembagian harta warisan.

 

Pembagian harta waris pada zaman  Arab Jahiliyah (sblm Islam) menampakkan ketidak adilan yakni antara anak-anak yang belum dewasa (anak yatim) dan istri tidak berhak atas harta warisan, bahkan istri dianggap sebagai salah satu harta warisan untuk saudara laki-laki dari pihak suami.

Hal diatas bertentangan dengan Al-Qur’an Q.S An-Nisa ayat 10 dan 12.

 

SEBAB-SEBAB MENDAPAT HARTA WARIS:

  1. Hubungan Kekeluargaan : seperti, anak,cucu, bapak, ibu, kakek, nenek, saudara laki-laki/perempuan (Q.S. An-Nissa ayat 7)
  2. Perkawinan : suami/istri (Q.S An-Nisaa :12)
  3. Hubungan seagama, yakni sesama muslim.
  4. Wala” yaitu orang yang memerdekakan pewaris dari perbudakannya.

 

SEBAB-SEBAB TIDAK MENDAPAT HARTA WARIS:

  1. Budak Belian ; karena kalau ia diberi bagian warisan , maka bagiannya akan menjadi milik majikannya. (Q.S An-Nahl :75)
  2. Pembunuh pewaris.
  3. Murtad; Ahli waris keluar dari Agama Islam.
  4. Kafir; ahli waris bukan muslim.

HARTA BENDA SEBELUM DIWARIS.

Sebelum harta benda dibagi kepada ahli waris selesaikan terlebih dahulu hal-hal berikut :

  1. Zakat; bila harta peninggalan belum dikeluarkan zakatnya.
  2. Biaya pengurusan pewaris sejak dari sakit sampai selesai pemakaman jenazahnya.
  3. Hutang; jika pewaris meninggalkan hutang.
  4. Wasiat ; jika pewaris berwasiat untuk diserahkan pada seseorang atau lembaga guna kepentingan syiarul Islam, wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga dari seluruh harta warisan, kecuali para ahli waris sepakat melebihkannya. Dan wasiat tidak boleh ditujukan pada ahli waris, kecuali disetujui seluruh ahli warisnya.

AHLI WARIS

  1. a. Ahli Waris Laki-laki:

  1. anak laki-laki
  2. cucu laki-laki dari anak laiki-laki dst. kebawah selama pertaliannya masih laki-laki.
  3. bapak.
  4. kakek dari bapak dst.ke atas.
  5. saudara laki-laki sekandung
  6. saudara laki-laki sebapak
  7. saudara laki-laki seibu
  8. anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (ponakan)
  9. anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak (ponakan)

10.  saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang seibu sebapak dengan bapak

  1. saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang sebapak dengan bapak

12.  anak laki dari saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang seibu sebapak dengan bapak

13.  anak laki dari saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang sebapak dengan bapak

14.  suami

  1. wala’ (laki-laki yang memerdekakan pewaris dari perbudakannya).

 

Jika kelimabelasnya ada semua, maka yang paling berhak adalah  Bapak, Suami dan anak laki-laki.

 

  1. b. Ahli waris perempuan

  1. anak perempuan
  2. cucu perempuan (dari anak laki-laki dst. ke bawah selama pertaliannya laki-laki)
  3. ibu
  4. nenek (dari ibu)
  5. nenek (dari bapak)
  6. saudara perempuan sekandung
  7. saudara perempuan sebapak
  8. saudara perempuan seibu
  9. istri
  10. wala’ah (wanita yang memerdekakan pewaris)

Jika ke sepuluh orang tersebut ada, maka yang memperoleh hanya lima orang yakni anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-laki), ibu, saudara perempuan sekandung dan isteri.

 

Jika ahli waris laki-laki (15 orang) dan ahli waris perempuan (10 orang) ada semua, maka yang berhak memperoleh warisan hanya lima orang saja yaitu :

  1. anak laki-laki
  2. anak perempuan
  3. ibu
  4. bapak
  5. suami/isteri.

KETENTUAN  PEROLEHAN HARTA WARIS

Pembagian harta waris dibagi menjadi tiga bagian, yakni: Dlawil Furudh, Ashobah dan Dlawil Arham

a. Dzawil Furudh, yakni ahli waris yang ketentuan perolehannya sudah ditentukan oleh syara’  yakni : 1/2,1/4, 1/8, 1/3, 1/6 dan 2/3.disebut juga Furudhul Muqaddarah

1.Ahli waris yang memperoleh bagian setengah (1/2) :

a.anak perempuan tunggal (Q.S. An-Nisa :11)

  1. cucu perempuan tunggal (dari anak laki-laki)

c. saudara perempuan tunggal yang sekandung (Q.S. An-Nisa :176)

  1. saudara perempuan tunggal yang sebapak

e.suami, apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun perempuan. (Q.S An-Nisa : 12)

 

2. Ahli waris yang memperoleh bagian seperempat (1/4)

a.suami, apabila pewaris meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun  perempuan. (Q.S An-Nisa : 12)

  1. istri, seorang atau lebih apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun perempuan. (Q.S An-Nisa : 12).

 

3. Ahli waris yang memperoleh bagian seperdelapan (1/8)

a.istri, seorang atau lebih apabila pewaris meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun perempuan. (Q.S An-Nisa : 12).

 

4. Ahli waris yang memperoleh bagian sepertiga (1/3)

a.ibu, apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau cucu ( dari anak laki-laki ) baik laki-laki maupun perempuan, atau dua orang saudaranya/lebih laki-laki maupun perempuan sekandung/sebapak/seibu saja. (Q.S An-Nisa : 11).

  1. dua orang saudara seibu /lebih laki-laki maupun perempuan (Q.S An-Nisa : 12).

5. Ahli waris yang memperoleh bagian seperenam (1/6)

a.bapak atau kakek, apabila ada anak/cucu

  1. ibu, apabila ada anak/cucu atau ada dua orang saudara lk./prp. atau lebih

c. nenek, seorang atau lebih, bila tidak ada ibu

  1. seorang saudara seibu,  baik laki-laki maupun perempuan

e.cucu perempuan seorang atau lebih, apabila ada seorang anak perempuan, tetapi bila anak perempuannya lebih dari seorang maka cucu hijab( tidak mendapat warisan).

f.  seorang saudara perempuan sebapak atau lebih apabila ada seorang saudara perempuan sekandung, tetapi apabial saudara sekandungnya lebih dari seorang maka saudara perempuyan sebapak hijab (tidak mendapat warisan).

 

6. Ahli waris yang memperoleh bagian duapertiga (2/3)

  1. dua orang anak perempua atau lebih, jika tidak ada anak laki-laki. (Q.S An-Nisa : 11).
  2. dua orang cucu perempua atau lebih dari anak laki-laki, bila tidak ada anak perempuan.
  3. dua orang saudara perempuan atau lebih yang sekandung (Q.S. An-Nisa :176)
  4. dua orang saudara perempuan atau lebih yang sebapak .

 

b. Ashobah : yaitu ahli waris yang mendapat bagian warisannya tidak ditentukan,  yaitu setelah diambil oleh ahli waris yang termasuk dzawil furudh. Ashobah terbagi menjadi tiga bagian yaitu Ashobah binafsihi, ashobah bighoirihi dan ashobah ma’a ghoirihi

1.Ashobah binafsihi ; yaitu ahli waris yang menjadi ashobah  dengan sendirinya (secara otomatis), mereka adalah :

  1. anak laki-laki
  2. cucu laki-laki dari anak laiki-laki dst. kebawah selama pertaliannya masih laki-laki.
  3. bapak.
  4. kakek dari bapak dst.ke atas.
  5. saudara laki-laki sekandung
  6. saudara laki-laki sebapak
  7. anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (ponakan)
  8. anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak (ponakan)
  9. saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang seibu sebapak dengan bapak

10.  saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang sebapak dengan bapak

  1. anak laki dari saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang seibu sebapak dengan bapak

12.  anak laki dari saudara laki-laki bapak (paman/wa’) yang sebapak dengan bapak

13.  wala’ (laki-laki yang memerdekakan pewaris dari perbudakannya).

2. Ashobah bighoihi, ahli waris yang menjadi ashobah dengan sebab ditarik oleh ahli waris tertentu dari ashobah binafsishi, mereka adalah ;

1. anak perempuan, dengan sebab adanya anak laki-laki

  1. cucu perempuan dari anak laki-laki dengan sebab adanya cucu laki-laki dari anak laki-laki.
  2. saudara perempuan seibu sebapak dengan sebab adanya saudara laki-laki yang seibu sebapak
  3. saudara perempuan sebapak dengan sebab adanya saudara laki-laki yang sebapak

 

3. Ashobah ma’a ghoirihi ;yaitu ahli waris yang menjadi ashobah karena bersama-sama ahli waris lain yang tertentu dari dzawil furudh, mereka adalah:

1. saudara perempuan sekandung apabila bersama-sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

  1. 2. saudara perempuan sebapak apabila bersama-sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

 

Untuk lebih jelasnya lihat skema berikut ini :

SKEMA PEMBAGIAN HARTA WARIS

NO NAMA AHLI WARIS BAGIAN

KETENTUAN

A

ANAK
1 Anak lk. seorang/lebih Ashobah binafsishi Tidak terhalang siapapun
2 Anak perempuan Ashobah bighoirihi Jika ada anak laki-laki
3 Anak prp. tunggal 1/2 Jika tidak ada anak laki-laki
4 Anak prp. lebih dari satu org. 2/3 Jika tidak ada anak laki-laki

B

CUCU Terhalang/hijab jika masih ada anak
1 Cucu prp. tunggal atau lebih Ashobah bighoirihi Jika bersama cucu laki-laki
2 Cucu prpn. tunggal dari anak laki-laki 1/2 Jika tidak ada anak /cucu laki-laki
3 Cucu prpn. 2 atau lbh dari anak laki-laki 2/3 Jika ada seorang anak prpn.
4 Cucu perempuan seorang atau lebih.

 

1/6 Jika ada seorang anak prp. tetapi bila anak prp. nya lebih dari seorang maka cucu hijab( tidak mendapat warisan).

C

AYAH/IBU    
1 Ayah Ashobah binafsihi Jika tidak ada anak lk/cucu laki2 dari anak laki2.
1/6 Jika ada anak lk/cucu laki2 dari anak laki2.
2 Ibu 1/3 Jika tidak ada anak /cucu .
1/6 Jika ada anak /cucu atau dua org/lebih sdr lk/prp.

D

KAKEK/NENEK

   
1

KAKEK

Ashobah binafsihi Jika tidak ada ayah/cucu lk. dr anak lk.2
1/6 Jika tidak ada ayah dan ada anak / cucu
Terhalang/ hijab jika masih ada anak / bapak
2

NENEK

1/6 Jika tidak ada ibu
Terhalang/ hijab bila masih ada ibu

E

SAUDARA LAKI-LAKI

   
1 saudara laki2. skdg.  

Ashobah binafsishi

 

 

Jika tidak ada ayah/anak laki2 dari anak laki2/kakek dari ayah dst ke atas.

 

 

Jika masih ada ayah/anak laki2 dari anak laki2/kakek dari ayah dst ke atas, maka semua sudara tsb. Mahjub (tidak mendpt warisan).

 

 

 

(dari satu s.d delapan, merupakan urutan prioritas).

2 saudara laki2.sebapak
3 anak laki2.dari saudara laki-laki skdg (ponakan)
4 anak laki2.dari saudara laki-laki sebapak (ponakan)
5 saudara laki2.bapak (paman/wa’) yang skdg. dengan bapak
6 saudara laki2.bapak (paman/wa’) yang sebapak dengan bapak
7 anak laki dari saudara laki2.bapak (paman/wa’) yang skdg dg bapak
8 anak laki2. dari saudara laki2.bapak (paman/wa’) yang sebapak dg bapak

F

SAUDARA PEREMPUAN

   
1 Saudara perempuan tunggal yang sekandung 1/2 Jika tidak ada anak lk/cucu lk.  dari anak laki2.
Ashobah bighoirihi Jika bersama saudara laki2 yang sekandung
Ashobah ma’a ghoirihi Jika bersama-sama dengan anak prp. atau cucu prp. dari anak laki-laki.
2 Saudara perempuan tunggal yang sebapak 1/2 Jika tidak ada anak laki2/cucu laki2 dari anak laki2.
Ashobah bighoirihi Jika bersama saudara laki2. yang sebapak
Ashobah ma’a ghoirihi Jika bersama-sama dengan anak prp. atau cucu prp. dari anak laki2.
3 Dua orang saudara perempuan atau lebih yang sekandung/sebapak saja 2/3 Jika tidak ada anak lk/cucu lk dari anak lk
G SUAMI 1/2 Jika tidak ada anak /cucu .
1/4 Jika ada anak /cucu laki2.
H ISTRI 1/4 Jika tidak ada anak /cucu .
1/8 Jika ada anak /cucu laki2.

HIJAB

Hijab berarti tabir atau penghalang bagi ahli waris untuk mendapat harta warisan karena ada ahli waris yang lebih dekat atau lebih berhak. Hijab ada dua :

1. Hijab Nuqshon, adalah hijab yang dapat mengurangi bagian dari harta warisan bagi ahli waris tertentu karena bersama-sama dengan ahli waris lain tertentu pula. Missal istri mendapat bagian ¼  namun karena bersama anak atau cucu maka ia mendapat 1/8 .

  1. 2. Hijab Hirman, adalah hijab yang menyebabkan ahli waris kehilangan haknya atas harta warisan karena terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat atau lebih berhak, antara lain :
    1. cucu laki-laki tidak berhak memperoleh harta warisan karena ada anak laki-laki.
    2. kakek tidak berhak memperoleh harta warisan selama ada bapak.
    3. nenek tidak berhak memperoleh harta warisan selama ada ibu
    4. Saudara sekandung tidak berhak memperoleh harta warisan selama ada anak laki-laki dan bapak.
    5. Saudara laki-laki/perempuan sebapak tidak berhak memperoleh harta warisan selama ada anak laki-laki , cucu laki , bapak, saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan sekandung jika berashobah dengan anak perempuan sekandung.

PENGECUALIAN

‘AUL(menambah).

Dalam ilmu faraaid artinya; “menambah banyak bagian-bagian, disebabkan kurang pendapatan yang harus diterimaoleh ahli waris sehingga jumlah bagian semuanya berlebih dari asal masalahnya, dengan kata lain jumlah KPK lebih kecil dari jumlah harta yang harus dibagikan

 

RAAD (mengembalikan).

Raad dalam ilmu faraaid artinya jumlah KPK lebih besar dari jumlah harta yang harus dibagikan. Dengan arti lain jumlah harta masih berlebih setelah dibagi-bagikab kepada ahli waris.

 

PERHITUNGAN WARISAN

Langkah-langkahnya;

  1. Tentukan ahli waris laki-laki dan perempuan
  2. Tentukan siapa dzawil furudh dan siapa ashobahnya
  3. Tentukan hijab nuqshon dan hijab hirman
  4. Tentukan bagian masing-masing sesuai ketentuan
  5. Cari asal masalahnya (KPK).

 

Contoh;

Seseorang meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta warisan sejumlah  Rp 100.000.000. harta tersebut belum dizakati dan untuk biaya pengurusan jenazah sebesar Rp 300.000, melunasi hutangnya Rp 200.000 dan memenuhi wasiatnya Rp 1.000.000.

Ahli warisnya terdiri dari istri, ibu, dua anak perempuan, seorang anak laki-laki, nenek, seorang saudara perempuan sekandung, dan seorang paman (dari ayah) . Tentukan bagian masing-masing.

 

Jawab :

Diket: Tirkah (harta peninggalan masih kotor)  :       =Rp 100.000.000

Zakat   :             2.5% x Rp 100.000.000 = Rp 2.500.000

Pengurusan jenazah                                   = Rp    300.000

Hutang                                                          = Rp    200.000

Wasiat                                                            = Rp  1.000.000     +

Jumlah Pengeluaran                                  =Rp   4.000.000

 

Jadi Mirats (harta yang siap dibagi) : Tirkah dikurangi biaya-biaya;

Rp 100.000.000 – Rp 4.000.000

= Rp 96.000.000

Ahli waris : hijab hirman tdr dr;  nenek terhalang ibu, sdr prp  dan paman terhalang anak laki-laki.

Hijab nuqshon : istri  ¼  menjadi 1/8 karena ada anak

Ibu 1/3  menjadi 1/6 karena ada anak

1 Anak laki-laki : ashobah binafsih (sisa)

2 anak perempuan : ashobah bighorihi (dibawa anak laki-laki)

 

KPK (asal masalah) antara 8 dan 6 adalah 24

istri =          1/8  x  24  =  3

ibu  =          1/6  x  24  =  4

7

anak            =          sisa  =  24  –  7 =  17

istri =          3/24  x  96.000.000  =  12.000.000

ibu  =           4/24  x  96.000.000  =  16.000.000

anak            =          17/24  x 96.000.000  =  68.000.000

 

 

1 anak-laki-laki adalah 2 kali bagian dari anak perempuan (an-Nisaa :11)

jadi sisa harta dibagi 4 bagian,  2/4 untuk seorang anak laki-laki dan 2/4 lagi untuk dua anak perempuan

1 anak laki-laki :  2/4  x  68.000.000 =  34.000.000

2 anak perp  masing-masing ¼ x 68.000.000 = 17.000.000.

 

 

Kerjakan seperti cara di atas !

contoh  soal  1 ;

Seorang meninggal, ahli  warisnya suami, ibu dan bapak, kakek. Dengan meninggalkan harta waris  sebesar Rp 200.000.000 diambil  biaya pemakaman Rp 3.000.000, Hutang 5.000.000 memenuhi wasiatnya Rp 7.000.000 dan harta tsb. Belum dizakati, Berapa bagian masing-masing ?

 

contoh soal 2

Seorang meninggal dengan meninggalkan harta warisan setelah diambil biaya-biaya, harta tersisa sebesar Rp 26.000.000, dengan ahli warisnya adalah dua orang Istri, dua orang saudara prp sekandung nenek dan ibu, berapa bagian masing-masing ?

 

contoh soal  3

Seseorang meninggal, dengan meninggalkan harta mirots sebesar Rp 30.000.000, dan ahli warisnya adalah Suami dan ibu, berapa bagian masing-masing mendapatkan?

 

 

 

 

 

سبحانا لله

Jawaban soal no 1

Tirkah :  200.000.000

Hutang                        :           5000.000

Biaya janazah  :           3000.000

Zakat               :           2.5% x 200.000.000

= 5.000.000

Wasiat             :           7.000.000

Jumlah             :           20.000.000

 

Mirats              :           200.000.000 – 20.000.000

= 180.000.000

Ahli waris        :           Suami

Bapak

Ibu

Kakek

Bagian masing-masing :

Suami  =          ½ (karena tidak ada anak/cucu)

Ibu       =          1/3 (karena tidak ada anak/cucu)

Bapak =           ashobah (karena tidak ada anak lk/cucu lk dr anak lk)

Kakek  =          hijab (terhalang : karena masih ada ayah

Ahli waris yang mendapat      :

KPK (asal masalah) antara 2 dan 3 adalah 6

Suami  :           ½ x 6 =    3

Ibu       :           1/3 X 6 = 2

Jumlah                             5

Bapak : sisa = KPK – jumlah harta yang dibagi

= 6 – 5 = 1

Suami : 3/6 x 180.000.000 = 90.000.000

Ibu       : 2/6 x 180.000.000 = 60.000.000

Jumlah :                                   150.000.000

Bapak  : sisa = 180.000.000 – 150.000.000

= 30.000.000.

 

 

 

 

 

 

 

 

Materi kelas xii semester genap

(Dikutip dari berbagai sumber)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: