MODEL KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

a. Pengertian

Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat berbuat sesuai dengan kemauan yang dikehendakinya. Dengan kata lain pemimpin adalah orang yang sanggup membawa orang lain menuju kepada tujuan yang dikehendakinya.  Banyak teori tentang pemimpin dan kepemimpinan (leadership), namun teori tersebut pada intinya adalah sebagai seni mempengaruhi orang lain.

Wahab Abdul Kadir mendefinisikan pemimpin adalah orang yang memiliki kesanggupan mempengaruhi, memberi contoh, mengarahkan orang lain atau suatu kelompok untuk mencapai tujuan baik formal maupun non formal[1]

Pemimpin juga diartikan sebagai seseorang yang berkemapuan mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja bersama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikannya.[2]

Memimpin adalah sebuah aksi mengajak sehingga memunculkan interaksi dalam struktur sebagai bagian dari proses pemecahan masalah bersama.

Pada hakekatnya setiap manusia pada hakekatnya adalah pemimpin, paling tidak ia sebagai pemimpin dirinya sendiri.  Hati adalah pemimpin di dalam tubuh manusia, sebab segala sesuatu yang yang manusia perbuat adalah berdasar petunjuk dan kemauan hati nurani.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya : “Setaip kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban pada orang yang dipimpinnya.”

Dari hadits tersebut tampak bahwa setiap jiwa manusia itu akan diminta pertanggungjawaban atas segala aktifitas hidupnya selama di dunia ini. Bahkan seeorang akan ditanya masing-masing anggota tubuhnya nanti di hari pengadilah sementara mulut itu membisu.

Firman Allah:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿٦٥﴾

Artinya : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin : 65)

b. Pembatasan dan perumusan masalah:

Setelah mendefinisikan tentang pemimpin, maka penulis hanya akan membatasi pada model-model atau tipe-tipe kepemimpinan di sekolah.  Dimana hal ini sangat penting bagi praktisi pendidikan tentang bagimana seharusnya mereka bersikap, karena ditangan pemimpinlah sebuah organisasi akan maju atau mundur.

Adapun masalah yang akan kami angkat adalah :

  1. Model-model apakah yang ada pada teori kepemimpinan?
  2. Bagaimana model-model itu harus diterapkan di lembaga pendidikan?
  3. Bagaimanakah seorang pemimpin bisa menerapkan model-model kepemimpinan?
  4. Bagaimana kepemiminan dalam Islam?

BAB II

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM

Dalam perkembangan studi tentang kepemimpinan, ada beberapa pendapat dan penelitia. Husaini Usman dalam bukunya Manajemen Teori Praktik Dan Riset Pendidikan, membaginya dalam dua bagian, yaitu Kepemimpinan Klasik dan Kepemimpinan Modern.

A. Kepemimpinan Klasik.

  1. Taylor (1911)

–      Cara terbaik untuk meningkatkan hasil kerja adalah dengan meningkatkan teknik atau metode kerja akibatnya anusia dianggap sebagai mesin.

–      Manusia untuk manajemen bukan manajemen untuk manusia

–      Fungsi pemimpin adalah menetapkan dan menerapkan kriteria prestasi untuk mencapai tujuan.

–      Fokus pemimpin adalah pada kebutuhan kerja.

2.  Model Mayo (1920)

–      Selain mencari teknik atau metode kerja terbaik, juga harus memperhatikan perasaandan hubungan manusiawi yang baik.

–      pusat kekuasaan adalah hubungan pribadu dalam unit-unit kerja

–      fungsi pemimpin adalah memudahkan pencapaian tujuan anggota secara kooperatif dan mengembangkan pribadinya.

  1. Studi Iowa (1930)

–      Otoriter dimana pemimpin bertindak secara direktif, selalu mengarahkan dan tidak memberikan kesempatan bertanya pada bawahannya.

–      Demokratis yang mendorong kelompoknya untuk berdiskusi, berpartisipasi dan menghargai pendapat orang lain, siap berbeda dan perbedaan untuk tidak dipertaentangkan.

–      Laize faire dimana pemimpin memberikan kebebasan mutlak kepada kelompoknya.

d. Studi Ohio (1945)

Dalam penelitian ini, muncul empat gaya kepemimpinan sebagai berikut:

Tinggi 

Perhatian

 

Struktur Rendah Perhatian Tinggi 

Pemimpin mendorong hubungan kerjasama harmonis dan kepuasan dengan kebutuhan ssosial anggota kelompok

 

Struktur Tinggi Perhatian Tinggi  

Pemimpin mendorong mencapai keseimbangan pelaksanaan tugas dan pemeliharaan hubungan kelompok yang bersahabat

Struktur Rendah Perhatian Rendah 

Pemimpin menarik diri dan menempati perasaan pasif.

Pemimpin membiarkan sejadinya

Struktur Tinggi Perhatian Rendah 

Pemipin memusatkan perhatian hanya kepada tugas

Perhatian pada kerja tidak penting

Rendah                                                Struktur inisiasi                                   Tinggi

e. Studi Michigan (1947)

–      Kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan, akan mementingkan hubungan pekerja dan menganggap setiap pekerja penting.

–      Kepemimpinan yang berorientasi pada produksi, menekankan pentingnya produksi sebagai aspek teknik kerja. Pada gaya ini pekerja dianggap sebagai alat mencapai tujuan organisasi.

B. Kepemimpinan Modern.

1. Likert (1961), merumuskan sistem kepemimpinan, yaitu :

–          Exploitative Authoritative (otoriter memeras), pada gaya ini bawahan harus bekerja keras untuk mencapai hasil dan jika gagal akan mendapat ancaman dan hukuman.

–          Benevolent autoritative, (otoriter yang bijak), pada gaya ini pemimpin menentukan perintah dan bawahan memiliki kebebasan memberi tanggapan terhadap perintahnya.

–          Consultative (konsultatif), pemimpin menetapkansasaran tugas dan memebrikan perintahnya setelah mendiskusikan hal tersebut pada bawahannya.  Bawahan dapat mengambil keputusan sendiri sesuai tugasnya, namun keputusan penting ada di tingkat atas. Hukuman dan ancaman digunakan untuk motivasi bawahan. Bawahan dipercaya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

–          Paticipative (partisipatif), Sasaran tugas dan keputusan dibuat oleh kelompok.  Jika pemimpin mengambil keputusan maka keputusan diambil setelah memperhatikan pendapat kelompok. Hubungan antar pemimpin bawahan terbuka, bersahabat dan saling percaya.

2. Reddin ( 1969),

–          Eksekutif : pemimpin disebut sebagai motivator yang baik, mampu dan mau menetapkan standar kerja yang tinggi, mengenal perbedaan individu dan menggunakan kerja tim.

–          Developer (Pecinta pengembangan): Pemimpin memiliki kepercayaan implisit terhadap orang yang bekerja dalam organisasinya dan sangat memperhatikan pengembangan individu.

–          Otokratis yang baik hati : pemimpin mengetahui secara tepat yang diinginkannya dan cara mencapainya tanpa menimbulkkan keengganan pada bawahannya.

–          Birokrat : pemimpin sangat tertarik pada aturan dan mengontrol pelaksanannya secara teliti.

–          Pecinta Kompromi: pemimpin pada gaya ini merupakan pembuat keputusan yang jelek karena banyak tekanan bawahan yang mempengaruhinya.

–          Missionari : Pemimipin hanya menilai keharmonisan sebagai tujuan dirinya sendiri.

–          Otokrat : Pemimpin tidak percaya pada orang lain, tidak menyenagkan dan hanya tertarik pada pekerjaan yang cepat selesai.

–          Lari dari Tugas : pemimpin tidak peduli pada tugas orang lain.[3]

Sopiah mengemukakan ada empat jenis kepemimpinan, yaitu :

1. Kepemimpinan Transaksional , ciri-cirinya:

–          pemimpin memberikan penghargaan kontigensi untuk memotivasi karyawan.

–          Pemimpin melaksanaka tindakan korektif hanya ketika para bawahan gagal mencapai tujuan kerja

2. Pemimpin Karismatik:

–          Menekankan para perilaku pemimpin secara simbolis, pesan-pesannya memberikan inspirasi bawahan, komunikasi non verbal, daya tarik idiologis.

  1. Kepemimpinan Visioner: merupakan kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realistis, percaya pada orang lain, memahami otoritas dan tahu kapan harus melakukan intervensi.
  1. Kepemimpinan Tim :

–      Pemimpin merupakan penghubung bagi para kontituen ekternal

–      Pemimpin adalah pemecah masalah

–      Pemimpin adalah menajer konflik

–      Pemimpin adalah pelatih.[4]

Adapun bila diterapkan dalam dunia pendidikan tentang model-model tersebut, sebagimana diunkapkan oleh Agus Dharma:

  1. Model Otokratis, disini seorang kepala sekolah menentukan sendirikebijakan sekolah dan menugaskannya kepda staf tanpa berkonsultasi dengan mereka, kepala sekolah mengarahkan secara rinci dan harus dilaksanakan tanpa pertanyaan[5].  Dengan model kepemimpinan ini seorang kepala sekolah biasanya selalu percaya diri, tahu persis apa yang harus dilakukan dan memiliki sumber pengaruh yang cukup untuk menggerakkan orang-orangnya. Namun model ini biasanya selalu mengekang staf baik tata laksana maupun dewan guru.
  2. Model Permisif, kepala sekolah beranggapan bahwa semua orang pada prinsipnya terlahir bertanggungjawab dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kewajibannya.[6] Kepala sekolah membiarkan stafnya untuk melakukan pekerjaannya sendiri tapi jika digunakan tanpa aturan akan timbul ketidak seimbanagan yang tidak kondusif di sekolah tersebut.  Sisi baiknya setiap staf dipacu untuk berinisiatif dan berkarya sendiri tanpa campur tangan kepala sekolah. Namun hal ini tidak semua benar dan hanya berlaku bagi guru yang berpengalaman dan profesional.
  3. Model Partisipatif, kepala sekolah selalu melibatkan stafnya dalam memutuskan suatu perencanaan, semua keputusan telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bahkan siswapun diajak turut serta.[7] Kebaikan dari sifat ini, jika terjadi kegagalan bukan sepenuhnya ditanggung pimpinan, naumun ditanggung bersama, namun sistem ini agak lama dan tidak cepat.  Bahkan dalam satu masalah bisa saja tidak dapat dioputuskan.
  4. Model Situasional[8], seorang kepala sekolah dalam model ini, harus melihat situasi dan kondisi waktu sebuah keputusan harus diambil. Model i ni dapat dikataakan memadukan dari model-model sebelumnya.  Jika diterapkan pada kondisi yang tepat maka dapat memotivasi bawahannya untuk bekerja keras untuk mencapau suatu tujuan.

Model-model tersebut jika digambarkan adalah sebgasi berikut:

C. Kepemimpinan Dalam Islam

Dalam nash al-Qur’an maupun Hadts menujukkan tentang siapa pemimpin, tugas dan tanggung jawabnya,  maupun mengenai sifat-sifat dan perlaku yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarar : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarar : 30)

Pada ayat tersebut jelas, bahwa manusia adalah pemangku kepemimpinan di muka bumi, sehingga Allah memerintahkan semua ciptaannya untuk patuh dan taat, bahkan Malaikatpun diperintahkan untuk tunduk pada manusia (Adam).

Lebih lanjut Al-Qur’an dalam Q.S. an-Nisa : 30 menerangkan bahwa pemimpin dioersyaratkan seorang laki-laki karena memiliki beberapa kelebihan sebagaimana Allah telah berikan.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. an-Nisa : 30)

Kemudian tugas seorang pemimpin harus mampu membawa di bawah kepemimpinannya untuk meninggalkan sesuatu yang dapat membawa bencana, baik di dunia maupun diakhirat, singkatnya seorang pemimpin harus dapat mengendalikan kepemimpinannya untuk selalu taat pada Allah.

Firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka……………..(Q.S. al-Tahrim : 6)

Adapun sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin, maka kepemimpinan yang baik adalah sebagaimana kepemimpinan model Rasulullah, yaitu dengan musyawarah sebagaimana firman Allah SWT.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya : ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imron 159)

Dari ayat tersebut dinyatakan bahwa seorang pemimpin harus memilki sifat lemah lembut dalam menghadapi pihak yang dipimpinnya, karena jika hal itu dilupakan niscaya mereka satu persatu akan meninggalkannya, atau paling tidak enggan melaksanakan perintah-perintahnya.  Jika demikian apa yang akan dicapai akan menghadapi kesulitan.

Jika menemui kebuntuan dan kesulitan maka dianjurkan untuk ijtihad, yaitu usaha dengan sepenuh hati untuk menetapkan sesuatu ketetapan yang belum ada dalam nash;

Sabda Rasulullah SAW.

اِذَا حَكَمَ اْلحاَكِمُ فاَجْتَهَدَ ثُمَّ اَصَابَ فَلَهُ اَجْرَانِ وَاِذَا حَكَمِ فَجْتَهَدَ ثُمَّ اَخْطَاءَفَلَهُ اَجرٌْ   رواه البخاري ومسلم

Artinya: apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan ijtihad kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika dia memutuskan dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka ia hanya mendapat satu pahala (H.R. Bukhori Muslim).

Sikap tegas dan terhadap kemungkaran juga harus diterapkan dalam kepemiminannya, sebagaimana Allah menyatakan dalam Q.S. Al-Fath : 29

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. Al-Fath : 29)

Dari pernyataan di atas (Qur’an dan Hadits), tampak bahwa konsep kepemimpinan di dalam ajaran Islam hanya berdasar musyawarah dan mufakat, namun demikian ada suatu perintah yang tidak boleh lagi dimusyawarahkan dalam memutuskan sesuatu yaitu dalil-dalil yang qoth’i.

Pada masa kepemimpinan Rasul, memang selalu dituntun oleh wahyu, jika tidak ada wahyu maka rasul berijtihad baik melalui musyawarah maupun inisiatif beliau sendiri.  Jika keputusan itu benar, Allah membiarkannya dalam arti tidak ada teguran wahyu, tapi jika ketetapan Rasul atau ijtihad nya itu tidak tepat maka turnlah wahyu.

Dari dasar itu, maka segala keputusan yang diambil masa kepemimpinan Rasul selalu benar.  Lalu bagaimana generasi setelah rasulullah ? maka ijtihadlah salah satunya, karena terdapat jaminan dan motifasi hasilnya sebagaimana disebutkan hadits di atas.

Menurut konsep Al-Qur’an, sebagimana ditulis oleh Khatib Pahlawan Kayo, bahwa seorang pemimpin harus memilki beberapa persyaratan sebagi berikut :

1.  Beriman dan bertaqwa. (Al-A’raf : 96)

2.  Berilmu pengetahuan. (Al-Mujadalah : 11)

3.  Mampu menyusun perencanaan dan evaluasi. (Al-Hasyr : 18)

4.  Memiiki kekuatan mental melaksanakan kegiatan.  (Al-baqarah : 147)

5.  Memilki kesadaran dan tanggung jawab moral, serta mau menerima kritik.  (Ash-Shaf:147) [9]

Adapun gaya yang harus dimilki seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, Islam menghendaki seperti berikut ini :

1.  Selalu ramah dan gembira

2.  Menghargai orang lain

3.  mempelajari tindakan perwira yang suses dan menjadi ahli dalam hubungan antar manusia

4.  Mempelajari bentuk kepribadian yang lain untuk mendapatkan pengetahuan dalam sifat dan kebiasaan manusia

5.  Mengembangkan kebiasaan bekerjasama, baik moral maupun spiritual

6.  Memelihara sikap toleransi (tenggangrasa)

7.  Memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan

8.  Mengetahui bilamana harus terlihat secara resmi sebagai pemimpin dan bilaman sebagai masyarakat, agar kehadirannya tidak mengganggu orang lain dan dirinya sendiri.[10]

Azas pemimpin dalam Islam, seperti dikemukakan Kamrani Buseri seperti berikut:

1. Power sesuai dengan yang diberikan oleh pemberi kekuasaan.

Dalam pandangan filsafat Islam, bahwa di atas rakyat dan presiden itu masih ada lagi yang maha memiliki power ialah Tuhan, oleh sebab itu baik rakyat maupun presiden harus merasakan bahwa mereka juga memiliki power sebagai pemberian dari Tuhan, itulah yang disebut dengan amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada pemberi. Jadi setiap manager mesti memiliki dua amanah yakni amanah dari organisasi/lembaga sekaligus amanah dari Tuhannya. Kesadaran spiritualitas ini memberikan corak kepemimpinan yang sangat berketuhanan dan manusiawi, dia akan membawa organisasinya ke arah visi ketuhanan dan kemanusiaan, bukan ke arah keserakahan.

2. Wewenang (authority).

Kewenangan adalah batasan gerak seorang manager sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh pemberinya. Dalam pandangan Islam, wewenang juga dua lapis, yakni wewenang yang diperoleh sejalan dengan ruang lingkup tingkatan tugas dan tanggung jawab manajer, serta wewenang yang diberikan oleh Tuhan sebagai khalifah-Nya, yakni memiliki kewenangan atas bumi dan segala isinya, dengan tugas memakmurkan bumi ini.

Kesadaran spiritual adanya kewenangan yang berlapis ini akan menumbuhkan pertanggung jawaban atas jalannya wewenang yang diterimanya, bahkan akan mempertanggung jawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa kelak. Bilamana seorang pemimpin sudah memiliki power, wewenang dan amanah, maka dia akan memiliki wibawa atau pengaruh. Menurut Daniel Katz and Robert L Kahn, esensi dari kepemimpinan organisasi adalah penambahan pengaruh di samping kerelaan mekanik melalui arahan yang rutin dari organisasi (Hoy and Miskel, 1991:252).

3. Keimanan

Iman yang akan membalut power, authority dan amanah tersebut sehingga kepemimpinan akan dibangun atas dasar bangunan yang komprehensip, kuat dan berorientasi jauh ke depan tidak sekedar melihat manajemen hanya diorientasikan kepada masalah mondial/duniawi semata. Seorang pemimpin yang kuat imannya, dia memahami bahwa kemampuan memimpin yang dia miliki adalah pemberian Tuhannya. Dia menyadari punya kekurangan, dan di saat itu dia juga mudah bertawakkal kepada Tuhannya. Sehingga keberhasilan dan kegagalan baginya akan memiliki makna yang sama, karena keduanya diyakini sebagai anugerah sekaligus pilihan Tuhannya. Disini pentingnya zero power

4.  Ketakwaan

Takwa sebagai azas kepemimpinan bukan dalam arti yang sempit., yakni takwa berarti berhati-hati dan teliti. Oleh sebab itu dalam surah Al- Hasyr 18 mengenai perencanaan, Allah memulai menyeru dengan seruan” Hai orang-orang yang beriman bertakwalah”, baru dilanjutkan dengan perintah mengamati kondisi kekinian yang digunakan untuk menyusun rencana ke depan. Setelah itu ditutup dengan seruan “bertakwalah” kembali. Ini menunjukkan perencanaan dan implementasi rencana harus dengan kehati-hatian dan ketelitian dalam

mengumpulkan data, pula dalam mengimplementasikannya. Atas

5.  Musyawarah,

Sebagaimana diterangkan dalam surah As-Syura:38 dan Ali Imran ayat 159. Musyawarah penting karena kepemimpinan berkaitan dengan banyak orang. Melalui musyawarah akan terbangun tradisi keterbukaan, persamaan dan persaudaraan. Perencanaan, organisasi, pengarahan dan pengawasan selalu saja terkait dengan sejumlah orang, maka keterbukaan, persamaan dan persaudaraan akan memback up lancarnya proses manajemen tersebut.

Sebuah visi dan misi organisasi, akan semakin baik bilamana dibangun atas dasar musyawarah, akan semakin sempurna dan akan memperoleh dukungan luas, sense of belonging and sense of responsibility karena masyawarah sebagai bagian dari sosialisasi.

Di sisi lain, musyawarah melenyapkan kediktatoran, keakuan dan arogansi yang seringkali menghambat kelancaran proses manajemen Tuhan juga mencontohkan dalam banyak firmannya yang menggunakan kata “Kami” dari pada kata “Aku”. Penggunaan kata “Kami” tersebut adalah pengakuan adanya keterlibatan pihak lain. Musyawarah dapat memperkuat proses transformasi input menjadi output, sesuai penegasan Howard S. Gitlow, dkk (2005:3) yaitu “A process is a collection of interacting components that transform inputs into outputs toward a common aim, called a mission statement. It is the job of management to optimize the entire process toward its aim”.[11]

Wallahu a’lam bishawab.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Dalam teori kepemimpinan terdapat model : taylor, Mayo, Iowa, Ohio dan Michigan. Yang dianggap sebagai teori klasik. Dan dalam teori kepemimpinan modern terdapat model yang dikemukakan Likert, Redin. Ditambah pula dengan munculnya kepemimpinan kharismatik, visioner, transaksional dan kerja tim (team work).
  2. Model kepemimpinan yang baik untuk diterapkan di lembaga pendidikan adalah kepemimpinan situasional, karena yang dipimpin dan produknya adalah benda hidup yang bernama anak didik.
  3. Seseorang bias menerapkan beberapa model kepemimpinan jika pemimpin itu memilki kemampuan intelektual dan daya nalar kreasi tinggi, sehingga kebijakan apa yang harus diambil dapat dengan cepat bias dilakukan.
  4. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan idealistic rasulullah, yaitu mengutamakan musyawarah dan pendekatan akhlaqi, yaitu mengaggap staf sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan.

DAFTAR PUSTAKA

Alqur,an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.

Abdoel Kadir, Abdul Wahab, Organisasi Konsep Dan Aplikasi, Tangerang, Pramita Press,cet.pertama, 2006,.

Buseri, Kamrani, Peran Spiritualitas (Agama) Dalam Penyelenggaraan Kepemimpinan, makalah disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 & Pascasarjana ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15 dan 16 September 2006.

Husaini Usman,., Manajemen Teori Praktik Dan Riset Pendidikan, jakarta, Bina Aksara, cet I, 2006

Pahlawan Kayo, Khatib RB, Kepemimpinan Islam & Dakwah, Jakarta, Amzah, cet I, 2005

Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Manajemen Sekolah, Jakarta, edisi II, cet III,tt

Sopiah, Perilaku Organisasi, Yogyakarta, Andi, tt,

Terry, Georga R. Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj.J. Smith DFM. Jakarta, Bumi Aksara, Cet.Kedelapan, 2006.


[1] Abdoel kadir, Abdul Wahab,Dr.,Ir., Organisasi Konsep Dan Aplikasi, Tangerang,Pramita Press,cet.pertama, 2006, h.125.

[2] Terry, Georga R. Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj.J. Smith DFM. Jakarta, Bumi Aksara, Cet.Kedelapan, 2006. H. 152.

[3] Husaini Usman, Prof. Dr.,M.Pd.,MT., Manajemen Teori Praktik Dan Riset Pendidikan, jakarta, Bina Aksara, cet I, 2006. h. 258-290.

[4] Sopiah, Dr. MM.MPd., Perilaku Organisasi, Yogyakarta, Andi, tt, h. 121.

[5] Pusdiklat pegawai Depdiknas, Manajemen Sekolah, Jakarta, edisi II, cet III,tt, h. 78

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid

[9] Pahlawan Kayo, Khatib RB, Kepemimpinan Islam & Dakwah, Jakarta, Amzah, cet I, 2005, h.75

[10] Ibid.

[11]Buseri, Kamrani, Peran Spiritualitas (Agama) Dalam Penyelenggaraan Kepemimpinan, makalah disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 & Pascasarjana ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15 dan 16 September 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: